PTB WDP XXXI – Dharma Bidak Catur untuk Negeri Kami yang Masyhur

Tak terasa Perkemahaan Teladan Bhakti Wira Dharma Pertiwi sudah dilaksanakan hingga 31 kali. Di Dusun Banjaran, Karangasem, Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta kami jatuhkan pilihan untuk kegiatan tersebut tahun ini.  Tiga hari, tanggal 7-9 April 2016, kami bhaktikan bersamaan dengan masa Ujian Nasional kelas XII. Puncak kegiatan PTB WDP XXXI memang telah berlalu. Para bidak catur yang mendharmakan bhakti itu sudah kembali dengan aktivitas rutin mereka. Tiga hari berbhakti rasanya memang singkat dan tak terasa sudah berlalu begitu saja.

Kekeluargaan, sopan santun, manfaat dan kesan, hubungan sosial, serta cinta tanah air. Lima konsep yang harus selalu digenggam dan bergerak seirama bersamaaan dengan aliran bhakti kami. Tentu telah banyak hal yang tergores dalam untaian hari-hari. Karena apa yang kita laksanakan ini, bukan tanpa arti. Kami terpasang di atas papan bumi pertiwi dengan rapi untuk  menyatukan strategi dan membhaktikan diri dalam Perkemahan Teladan Bhakti Wira Dharma Pertiwi XXXI.

 

Kesan yang telah terbubuhkan dalam ingatan kami, baik sengaja maupun tidak sengaja. Kurang lengkap rasanya jika tidak turut serta terabadikan dalam deretan pendek kata. Apa yang tertulis jelas jauh dan tak akan cukup memuat besarnya seluruh realita yang terjadi. Namun setidaknya mampu membuat apa yang telah terlalu itu tidak saja meninggalkan bekas dalam memori dan dapat dilihat dan dirasakan dalam imaji oleh seseorang yang sekalipun ia tak hadir di dalam cerita.

Pada malam harinya kami menyelenggarakan pengajian akbar sekaligus sebagai pembukaan secara resmi rangkaian kegiatan PTB WDP XXXI.

 

Esoknya, pada pagi hari kami mengenakan pakaian olahraga untuk melakukan Senam Kesegaran Jasmani yang dikoordinasikan oleh Kementrian Sosial Kesehatan. Selanjutnya, mulai pukul 08.00 kami melanjutkan bhakti yang ketiga, keempat, dan kelima. Bhakti kelima selesai pada pukul 18.30.

Terdapat tiga program gabungan pada hari kedua, yaitu bakti sosial pada pagi hari yang dilanjutkan dengan tamanisasi yang kedua, serta pentas seni ba’da Isya’. Hari itu kami menjalankan kegiatan selayaknya dengan penuh semangat dan bahagia. Kami telah mengundang warga untuk mengikuti acara pentas seni. Semua sudah disiapkan. Anak-anak yang sebelumnya telah belajar menari bersama kami juga bersiap untuk menampilkan seni terbaiknya. Acara malam puncak segera dimulai.

Beberapa saat sebelum pentas seni, kami mengalami padam listrik. Namun hal tersebut bukanlah sebuah rintangan yang benar-benar menjadi penghambat bagi kegiatan ini. Para warga telah hadir di Balai Dusun tempat pentas diselenggarakan. Pentas seni dimulai. Hujan rintik-rintik mulai menyelimuti. Ternyata tak butuh waktu lama bagi sang hujan untuk meningkatkan intensitas dan volumenya. Hujan deras mengguyur kami. Tenda kami yang bocor tak kuasa menahan rembesan air yang terus mengalir membanjiri barang-barang yang ada di dalam. Sedikit dari tenda kami waktu itu ada yang masih ditunggui, jadi tak sampai benar-benar kebasahan sudah sempat berusaha mengamankan barang-barang tersebut. Tapi sayang, tak sedikit yang harus merelakan beberapa barang elektroniknya terguyur air. Ya, tenda kami benar-benar tidak lagi bisa sebagai tempat untuk berlindung pada malam itu.

 

Kami yang sedang berada dalam acara malam puncak pentas seni langsung panik memikirkan keadaan tenda dan barang kami. Kegiatan evakuasi pun dilakukan, barang-barang dipindahkan ke masjid Al-Huda dan Madrasah Ibtidaiyah YAPPI Banjaran. Tuhan Maha Berkehendak, rupanya malam puncak acara ini tak hanya tersemarakkan oleh acara yang kami rencanakan. Kami kebanjiran, hal ini yang lebih menyita hati dan pikiran kami saat itu. Ketika hari sudah larut malam, hujan pun reda. Kami masih meminjam sekolah dan masjid untuk berlindung, juga sejumlah rumah warga setempat untuk beristirahat malam.

 

Hari ketiga, tanggal 9 April 2016, menyapa kami. Pagi itu segera kami tata kembali ruang kelas sebelum murid-murid MI yang rajin datang ke sekolah. Mereka pun berdatangan tepat setelah kelas-kelas kembali rapi dengan mengenakan pakaian olahraga. Hari ini memang ada jadwal senam lagi seperti kemarin. Tapi, kami tidak bisa melaksanakannya karena masih disibukkan dengan mengumpulkan barang-barang yang sempat tercecer saat evakuasi semalam. Kami juga bekerja bhakti membersihkan lapangan. Bhakti keenam kami laksanakan juga pagi itu. Beberapa bus pun sudah berdatangan untuk membawa kami pulang. Di akhir-akhir kesempatan hari itu kami bercengkrama dengan anak-anak sebelum pulang. Guru mereka memberi kesempatan untuk ngobrol dengan siswa-siswi SMA ini.

 

Kami pulang lebih dahulu dari jadwal. Akhirnya kami sampai kembali di kampus tercinta SMA Negeri 1 Yogyakarta dengan selamat. Alhamdulillah.

Perkemahan Teladan Bhakti, berbhakti tuk negeri, Perkemahan Teladan Bhakti Wira Dharma Pertiwi.

PTB WDP XXXI… Skaak!

 

Write a comment